
TPID DIY Perkuat Langkah Stabilisasi Harga dan Penyerapan Telur Ayam Ras
Yogyakarta – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY terus memperkuat langkah stabilisasi harga dan penyerapan telur ayam ras di tingkat peternak. Upaya tersebut dilakukan sebagai respons terhadap penurunan harga telur yang terjadi akibat meningkatnya produksi dan melemahnya daya serap pasar.
Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya populasi ayam petelur dalam beberapa waktu terakhir. Sebagian besar ayam saat ini berada pada masa puncak produksi, sehingga terjadi peningkatan pasokan telur di pasar. Peningkatan kapasitas produksi tersebut sebelumnya turut didorong oleh tingginya ekspektasi terhadap kebutuhan telur dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi kelebihan pasokan ini tidak hanya terjadi di DIY, tetapi juga menjadi fenomena secara nasional sehingga penyaluran surplus telur ke luar daerah menghadapi persaingan yang cukup ketat.
Di sisi lain, penurunan permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) turut memberikan tekanan terhadap harga di tingkat peternak. Harga Pokok Produksi (HPP) telur saat ini berada sekitar Rp25.000 per kilogram, sementara harga penyerapan oleh pengepul atau pedagang berada pada kisaran Rp19.000–Rp21.000 per kilogram. Kondisi tersebut menyebabkan peternak menghadapi tekanan karena harga jual berada di bawah biaya produksi.
Tekanan terhadap peternak juga dipengaruhi oleh tingginya biaya pakan, khususnya kebutuhan jagung sebagai salah satu komponen utama pakan ayam petelur. Ketersediaan jagung lokal untuk kebutuhan peternak DIY masih perlu diperkuat, termasuk melalui pemetaan sentra produksi jagung yang belum terikat kemitraan dengan pihak luar daerah. Aspek kualitas jagung, terutama terkait kadar aflatoksin, juga menjadi perhatian untuk menjaga produktivitas dan kesehatan ternak.
Merespons kondisi tersebut, diperlukan langkah penanganan yang dilakukan secara terpadu dari sisi hulu hingga hilir. Salah satu langkah yang didorong adalah penguatan akses peternak terhadap bahan baku pakan melalui fasilitasi rekomendasi kepada pemerintah pusat agar peternak DIY dapat memperoleh alokasi jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung Perum Bulog.
Dari sisi hilir, Pemda DIY mendorong penguatan penyerapan surplus telur melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu peluang yang dapat dioptimalkan adalah pemanfaatan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di sejumlah perguruan tinggi di DIY, antara lain dengan mendorong penggunaan telur dalam menu konsumsi peserta. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi upaya jangka pendek untuk membantu menyerap surplus produksi sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya konsumsi telur bagi kesehatan.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan dapat dioptimalkan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keberlanjutan permintaan telur lokal. Peningkatan penggunaan telur produksi peternak DIY dalam menu MBG perlu diiringi dengan penetapan harga serap yang wajar dan mempertimbangkan HPP, sehingga program tersebut tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi peternak lokal.
Penguatan tata niaga juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak, pedagang, dan konsumen. Pemda DIY mendorong pendekatan persuasif sekaligus pengawasan terhadap tata niaga telur di tingkat pengepul dan pedagang agar disparitas margin dapat ditekan. Dengan demikian, harga penyerapan di tingkat peternak diharapkan dapat meningkat mendekati HPP tanpa mengurangi keterjangkauan harga bagi konsumen.
Dalam rangka memperluas akses pasar, Kerja Sama Antar Daerah (KAD) juga menjadi salah satu instrumen yang dapat dioptimalkan. KAD komoditas jagung diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bahan pakan melalui kerja sama dengan daerah sentra produksi jagung. Sementara itu, KAD komoditas telur dapat dikembangkan untuk membuka akses pasar ke daerah lain yang mengalami defisit pasokan.
Untuk jangka panjang, stabilisasi harga telur perlu didukung dengan penguatan kelembagaan ekonomi peternak dan pengelolaan siklus produksi secara lebih terukur. Penguatan kelembagaan diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar peternak dalam rantai pasok, sementara manajemen populasi ayam petelur yang terpadu diperlukan untuk mencegah terjadinya fluktuasi ekstrem antara kondisi kelebihan pasokan dan kelangkaan di masa mendatang. Pengelolaan rantai pasok ayam afkir secara terukur juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan populasi dan keberlanjutan produksi.
Melalui sinergi pemerintah, peternak, pelaku usaha, perguruan tinggi, BUMN pangan, serta pemangku kepentingan lainnya, upaya stabilisasi telur ayam ras diharapkan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh. Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha peternak dan terciptanya tata niaga telur yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan.
